Dating Myself (All the time)

Monday, October 26, 2015

“Mengenal diri sendiri itu,” ucapnya suatu sore “memang dimulai dari kesendirian”. Ia, yang telah bertahun-tahun pergi ke bioskop selalu sendirian itu, yang dua tahun lalu saya anggap aneh itu, kini menjelma jadi saya. Kerandoman pikirannya, keunikan cara ia memilih kata-kata, cara pandangnya akan hidup membikin saya ingin jauh-jauh. Tiba-tiba saya pikir ia wanita sesat.

Maka, selama satu tahun belakangan ini saya menyendiri. Hal itu, tentu saja bukan karena teringat obrolan sore dengan si wanita sesat itu. Tapi, kau tahu, teori evolusi Darwin turut andil di sini. Bukan, bukan berarti saya berevolusi dari kera menjadi saya. Atau, tak apa lah, jika pun kera, bukan dalam bentuk rupa dan fisik, kasarnya, otak atau tingkah laku kera. Tak apa. Sebab saya berevolusi.

Hidup yang terlalu disibukkan dengan mengurusi hidup orang lain memang membikin tahun-tahun berlalu bagai membalik telapak tangan. Lalu dibikin lupa kalau pada diri sendiri pun tiada kenal. Jadi, sudahkan (saya) mengenal diri saya sendiri? Belum. Sesuatu menjadi semakin rumit ketika kau menyadari bahwa di dalam dirimu ada dua. Satu putih, lainnya hitam. Satu bisa dikontrol, lainnya tiada bisa. Kedua sisi dalam diri ini, tentu saja, saling bertentangan kadang pula perang. Dan perang, sebagaimana seharusnya perang, akan ada yang menang dan kalah. Setelah itu? perang, perang,perang,perang lagi. Sebagaimana perang memang ditujukan untuk berlanjut. Maka, I have no enemy but myself.

Perang melawan diri sendiri ini, selain melelahkan jiwa dan raga, juga terpaksa saya nikmati. Sebab saya berevolusi. Saya bercermin dan saya tak melihat “saya”. Saya melihat seseorang yang lain, saya teringat si wanita—yang disinyalir sesat itu. Baiklah saya mengaku, ia tiada lain adalah guru privat bahasa Inggris saya, yang bentuk rupanya sudah tiada lagi pernah saya temui. Bertahun-tahun lalu, kata-kata “be myself” selalu saya agung-agungkan padanya. “You don’t know shit about yourself”, ia bilang. Saya marah. Dua tahun kemudian saya bilang (kepada diri sendiri) “I know nothing about myself but a-random-complicated-yet-interesting-weirdohere I named myself. Sebuah bentuk kepesimisan diri? Bukan. You know, stay weird!


Hidup, sebagaimana kita menengok ke belakang, penuh dengan lika-liku, jalanan naik dan turun, tebing, hutan rimba, gunung, lautan sekali pun tanpa disadari pernah kita lewati, betapa mengerikannya ketika kita membayangkan kita pernah berada di tempat-tempat itu. betapa bangganya kita karena telah melewati semua itu, meski aspal panas dan gurun pasir menunggu di hadapan. “… tanpa menyadari perubahan yang telah terjadi,” ucap Jean Baudrillard “kita tiba-tiba telah meninggalkan realitas di belakang kita”.

Adalah kesendirianlah yang kemudian membuat saya menjadi peka, setidak-tidaknya kepada diri sendiri. Menghargai diri sendiri, lebih menghargai orang lain juga, dan yang lebih penting, membikin tahu perihal apa yang diingini diri ini. Yang saya rasa, ketika kita mencoba untuk mengenal diri sendiri, kita pun secara tidak langsung dibuat untuk mengenal orang lain and find the unique thing in them, because everyone is unique! Meski sering disebut aneh, I love dating myself all the time. Pergi ke bioskop sendirian, jalan-jalan, makan, nongkrong all by myself. Bukan, bukan karena tiada teman. Namun, ada semacam kepuasan tersendiri ketika saya bisa melakukan sesuatu hanya dengan diri sendiri. Dan, sampai waktu yang belum ditentukan, I feel like I don’t need a boyfriend or someone to share “everything” with in my weirdest life. Sebab saya bercermin dan saya tak melihat “Saya”. []

posted from Bloggeroid

You Might Also Like

2 komentar

Labels

Followers